Bonam noctem teman-teman J
Apa kabar weekendnya? Menyenangkan?
Saya? Alhamdulillah amat sangat menyenangkan. Weekend saya kali ini begitu
ramai sampai saya melupakan tugas saya seorang mahasiswa tingkat akhir. Haha
Sabtu kemarin salah satu sepupu
saya datang seperti biasa, dia sangat begitu dekat dengan saya mungkin bukan
sekedar sepupu tapi lebih dari itu. Adik dan kakak. Kami menghabiskan waktu dengan
bermain games, sampai senja berganti gelap kita menuju salah satu pusat
perbelanjaan di jakarta.
Di dalam mobil Zidan bertanya “
Ni, kok bulan kalau kita jalan dia ngikutin kita terus sih, coba deh perhatiin”
Aku “ Masa sih? Aku melongok
kebelakang mobil
Zidan “iya, aku perhatiin tau ni,
tuh liat deh liat dia ngejar kita”
Aku ingin saja menjelaskan bagaimana
teori Pythagoras mempu menghubungkan antara pernyataan zidan itu. Tapi ya
lupakanlah mungkin sebaiknya biarkan zidan dengan cara berfikir yang sederhana
itu membuatnya berkembang. Lagipula aku sebenarnya ingin bisa seperti zidan,
berfikir dengan cara yang sederhana tanpa harus tau teori apa yang tepat,
apalagi tentang kehidupan. Berfikir sederhana terkadang penting jika aku harus
dibenturkan pada pahitnya kehidupan emmm mungkin bukan tentang pahitnya hidup
tetapi aku yang terlalu lemah
menghadapinya. Menjadi kecil kembali memang tidak akan pernah bisa, berfikir
untuk mundur kebelakang mungkin bisa menjadi pilihan tetapi aku tak pernah ingin menjadi salah satu
orang yang harus terjatuh ditempat yang sama untuk kedua kalinya.
“Zidan, saat kamu besar biarkan logika
berfikirmu yang berperan, nikmatilah cara berfikir sederhanamu yang sekarang
karena saat kau ada di posisiku ini, kau pasti akan sangat merindukan masa-masa
seperti ini. Dan apabila nanti saat kau sudah ada pada posisiku yang sekarang dan
kau tak mampu datanglah kepada kakakmu ini aku siap menghibahkan pundakku untuk
beban yang kau tanggung nanti, memang tak cukup besar untuk menopang tubuhmu
tapi ku pastikan pundakku mampu untuk menahan air mata dan beban mu itu “
Feny Multi Fersiana