playlist

Saturday, June 8, 2013

Your Blue Eyes









Aku menikmati setiap detik waktu yang kita jalani bersama, setiap peluh yang kamu rasakan ketika rindu mengudara di antara dua Negara. Ketika aku mencoba menghiburmu percayalah bahwa disini aku merasakan peluh yang sama. Tangisan yang bermuara di antara wajahku yang sendu yang tak pernah berani menampakan air matanya, karena aku tau dengan kau menahan rindu saja sudah begitu menyiksa dan aku tak ingin membebani dirimu dengan rengekan manja dari ku.

Terkadang aku ingin menyerah, aku merasa tak pernah mampu bertahan lebih lama dari detik ini. Tetapi setiap suara yang terdengar dari bibirmu seperti candu yang mampu menguatkan aku. Matamu yang biru seakan menyelami lebih dalam perasaan ku. Kau tau bagaimana caranya menggoda ku, kau lihai membujukku ketika sikap kekanak-kanakanku datang. Kau yang tak pernah peduli kulit coklatku. Kau anggap akulah wanita paling cantik untukmu kemarin, hari ini dan seterusnya. Kau yang selalu meninggikan aku disaat aku berkata wanita lain itu bermata biru seperti mu!

Sayang bila waktunya telah tiba datang lah kemari, kerumah ku yang bercat jingga, berpagar kayu. Aku sudah lama ingin memelukmu dengan hangat. Aku ingin mendengarkan suara mu yang ringan dengan memanggilku “ oh dear ”. Aku ingin melihat mata birumu lebih dalam, lebih pekat secara langgsung tanpa dibatasi layar, tanpa di batasi waktu.  

Aku berharap di matamu yang biru teduh itu kita bisa meneruskan mimpi-mimpi indah kita. 


                       
  

Wednesday, June 5, 2013

Pelajaran Moral itu lebih Penting



Hallo… Selamat malam semuanya


Sudah lama saya tak pernah bersua di blog ini.


Bulan ini jadi bulan yang sangat sibuk, sepupu saya sedang sibuk mencari sekolah terbaik di Jakarta. Saya ikut senang bahwa sepupu saya bisa mendapatkan nilai yang memuaskan untuk nilai ujian nasional.


Ujian nasional sangat menarik sekali untuk dibahas, terlebih dengan kegagalan ujian nasional tahun ini yang berakibat kepada pandangan public tentang kemendikbud terutama kepada bapak menteri.


Saya tidak pernah menyalahkan Pak Nur, saya tahu dia juga ingin memberikan yang terbaik. Semua ini jauh dari control kita semua. Siapa yang ingin ujian tahun ini berantakan? Terlepas siapa yang salah dan siapa yang benar dalam hal ini. Ujian nasional memang perlu di tinjau kembali. Bukan hanya psikologi siswa yang dipertaruhkan disini,tetapi sebagai guru pun memiliki perasaan yang sama. Beban mental yang sangat besar karena kegagalan ujian nasional siswanya sangat berdampak kepada pandangan sekolah itu sendiri.


Saya yang pernah merasakan menjadi seorang siswi yang mengikuti ujian nasional dan merasakan menjadi seorang pendidik yang dibenturkan pada fakta bahwa ujian nasional merupakan salah satu tolak ukur kelulusan siswa itu sangat berat. Bukan karena standar nilai ujian yang tinggi tetapi lebih kesiapan siswa akan materi yang harus dikuasi. Indonesia memiliki panjang 5150 km, dari sabang sampai merauke, ingat bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan yang dibatasi oleh pegunungan, lautan dsb. Bagaimana kabar siswa yang berada diantara lautan? Di pulau terpencil, bagaimana siswa yang berada di daerah pegunungan yang sulit mendaptkan signal. Kalau Jakarta dijadikan tolak ukur sebagai wilayah siap ujian nasional, of course ujian nasional bukan hal yang sulit, tetapi kalau dibandingkan dengan daerah Papua contohnya, presentasi kelulusannya kecil. Ini bukan salah mereka. Fasilitas yang kurang membuat mereka terpaksa belajar dengan seadanya. Jangankan mengakses internet untuk mencari sumber lain sebagai latihan soal persiapan ujian nasional, guru pun disatu sekolah mungkin hanya 3orang.


Kenapa harus berfikir bahwa ujian nasional itu penting? Yang penting adalah ujian moral. Kenapa tidak memasukan mata pelajaran moral saja. Indonesia sudah penuh dengan korupsi, siswa kita adalah generasi muda sebagai penyambung mimpi nenek moyang kita. Nilai matematika 9,00 tidak bisa menjamin mereka untuk tidak korupsi dikemudian hari. Tetapi Pelajaran moral dan agama yang ditekankan setidaknya bisa menjadi fentilator mereka untuk tidak melakukan hal itu.


Sebagai calon pendidik saya tidak keberatan dengan ujian nasional itu, tetapi mempertimbangkan adalah hal yang cukup bijak. Kita seharusnya belajar kepada Negara Finlandia. Negara pemilik Nokia ini, menjadi icon baru pada dunia pendidikan. Banyak factor yang mempengaruhi Finlandia menjadi Negara yang berkelas khususnya dari segi pendidikan. Disana tidak mengenal ujian nasional, ujian yang diberikan berasar dari guru yang mendampingi siswa selama dikelas. Mereka diberi kebebasan untuk memberikan ujian kepada siswa itu pun pada jenjang pendidikan setara SMA. Ini cukup masuk akal karena yang tahu akan progress siswa itu adalah guru bukan pemerintah apalagi nilai ujian nasional yang dijadikan tolak ukurnya.


Saya berharap kita semua mampu berfikir kembali akan pentingnya hal ini. Ingat bahwa pendidikan moral adalah yang dibutuhkan oleh generasi muda Indonesia saat ini bukan barisan rumus yang harus di hafal.


Selamat Malam ..