Aku menikmati setiap detik waktu
yang kita jalani bersama, setiap peluh yang kamu rasakan ketika rindu mengudara
di antara dua Negara. Ketika aku mencoba menghiburmu percayalah bahwa disini
aku merasakan peluh yang sama. Tangisan yang bermuara di antara wajahku yang
sendu yang tak pernah berani menampakan air matanya, karena aku tau dengan kau
menahan rindu saja sudah begitu menyiksa dan aku tak ingin membebani dirimu
dengan rengekan manja dari ku.
Terkadang aku ingin menyerah, aku
merasa tak pernah mampu bertahan lebih lama dari detik ini. Tetapi setiap suara
yang terdengar dari bibirmu seperti candu yang mampu menguatkan aku. Matamu
yang biru seakan menyelami lebih dalam perasaan ku. Kau tau bagaimana caranya
menggoda ku, kau lihai membujukku ketika sikap kekanak-kanakanku datang. Kau yang
tak pernah peduli kulit coklatku. Kau anggap akulah wanita paling cantik
untukmu kemarin, hari ini dan seterusnya. Kau yang selalu meninggikan aku disaat aku
berkata wanita lain itu bermata biru seperti mu!
Sayang bila waktunya telah tiba datang
lah kemari, kerumah ku yang bercat jingga, berpagar kayu. Aku sudah lama ingin
memelukmu dengan hangat. Aku ingin mendengarkan suara mu yang ringan dengan
memanggilku “ oh dear ”. Aku ingin melihat mata birumu lebih dalam, lebih pekat
secara langgsung tanpa dibatasi layar, tanpa di batasi waktu.
Aku berharap di matamu yang biru
teduh itu kita bisa meneruskan mimpi-mimpi indah kita.
