playlist

Sunday, February 23, 2014

Jumat di Jakarta

Lebih dari sebulan saya kurang produktif menulis di blog, mungkin saya sibuk beradaptasi dengan lingkungan saya yang baru. Lepas dari dunia kuliah membuat saya sedikit kaget. Saya harus menjadi feny yang lebih mandiri, saat saya kuliah semua terasa mudah karena saya melakukan bersama dengan teman-teman saya, Tapi semua berubah ketika saya masuk didunia kerja, saya harus berdiri sendiri, harus belajar dengan waktu yang sangaat singkat. Kadang saya ingin kembali kedunia itu, dimana semua terasa jauh lebih mudah, ringan dan menyenangkan tapi saya sadar saya harus menyesuaikan  kecepatan waktu bukan waktu yang menyesuaikan saya. Saya harus berlari mengikuti waktu, bukan waktu yang berjalan dibelakang saya. Hidup saya menjadi lebih dinamis sekarang. Semua serba cepat, dan selalu ingin cepat.

Jumat kemarin saya bersyukur, saya memiliki waktu satu hari, lepas dari rutinitas mengajar saya. Lepas dari penglihatan adik-adik kecil yang selalu memanggil saya dari kejauhan “ Bu Fenyyyyyyyyyy! Hahaa saya hapal betul bagaimana mereka meneriaki saya dari lantai 2 sambil melambaikan tangan ke saya, atau sekedar bertukar cerita, “ Bu kita Games lagi dong bu, hayo bu kaya minggu kemarin” rengekan mereka kadang membuat saya ingin tertawa, bagaimana bisa kalian begitu bersikap manis? Ternyata menjadi guru bukan pekerjaan yang buruk, sangat sangat menyenangkan. Yaa kembalik ke hari jumat, 20 februari 2014, saya memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar Jakarta. Menikmati sedikit waktu saya untuk melakukan hal yang berbeda. Saya sampai di istana Negara Jakarta, hari itu saya engga pernah berencana mau kemana, saya biarkan kaki saya tetap berjalan, untung sekali hari itu jalanan sepi tidak macet, mungkin karena habis hujan. Saya berjalan mengitari Monumen Nasional, menyempatkan diri ke stasiun Gambir, untuk solat dzuhur.  Karena tidak mungkin saya solat dimasjid karena sedang dipakai untuk solat Jumat, jadi jauh lebih baik saya solat di mushola. Setelah itu saya berjalan lagi, saya percayakan kaki saya melangkah kemanapun dia mau, asal masih berada sekitar Jakarta, saya tidak pernah takut. Selama masih bertemu jalan protocol itu tak masalah, disana saya lihat banyak sekali restaurant, banyak sekali orang didalamnya, ini pertama kalinya saya kedaerah ini, ditempat ini saya sempat masuk kedalam beberapa restaurant tapi penuh sekali, mungkin karena situasinya saat makan siang, sampai saya melihat satu gang yang isisnya warung-warung makan yang bersih, ada sedikit pasar kecil juga didalamnya. Saya coba masuk kedalam, semua tempat penuh, kecuali satu meja denngan 4 kuris yang tersisa, okay saya putuskan untuk duduk disana, tidak lama ada sepasang suami –istri ikut bergabung, saya makan sop daging, dan engga lama saya mendengar sepasang suami –istri itu berdebat. Saya engga berniat mau mendengar pertengkaran mereka Cuma bagaimana bisa, sedangkan saya duduk dihadapan mereka, saya mencoba untuk cari kursi lain, mungkin jauh lebih sopan kalau saya duduk di meja yang berbeda dengan mereka setidaknya saya tidak harus mendengar kenapa mereka bertengkar, tapi saya gagal semua kursi penuh, ya sudah terima saja nasib itu. Setelah makan, saya mencooba untuk mengexplore diri saya di Jakarta, 23 tahun tinggal di Jakarta, tapi ini pertama kalinya saya ketempat ini hahaa cupu sekali. Saya berjalan menikmati pemandangan gedung- gedung tinggi menjulang, saya masih menikmati indahnya Jakarta yang tidak terlalu ramai saat itu. Sampai saya bertemu dengan gedung yang tak asing bagi saya “Grand Indonesia” saya menaiki tangga penyebrangan, sedikit mengambil foto dari sana, sampai saya melihat ada sesuatu yang menarik saya kasana, ada anak kecil mungkin 4 tahun umurnya menangis, dia menunjuk-nunjuk kegerobak makanan, ibunya hanya diam sambil meggendok adiknya yang masih bayi. Saya mendekat kepada anak kecil itu, sambil memegang pipinya, mengelus kepalanya “Adek kok nangis? Mau jajan yaaa? Hayo sini sama tante kebawah jajan yuk, engga apa2 engga dimarahin kok” ibunya sambil memelas dan berkata “ si arip laper mba, uangnya belom cukup buat beli nasi” “ oh gitu yaa, ywd arif kebawah sama tante yuk, jajan tuh dibawah ada banyak makanan yuk” siadik kecil akhirnya berhenti menangis, tapi saya yang akhirnya menangis. Arif itu masih terlalu kecil untuk menahan lapar, masih terlalu muda untuk berdiri dipinggiran jembatan penyebrangan sambil memegang gelas dan meminta-minta. Kulitnya masih terlalu halus untuk terkena sinar matahari, debu jalanan. Saya emang engga pernah berada diposisi arif, tapi saya tahu rasanya lapar itu bagaimana, yang membedakan saya dengan arif adalah saya masih mampu untuk membeli makanan ketika saya lapar, sedangkan arif hanya mampu menangis saat lapar. Kasian dia, harusnya dia sedang berada di taman belajar, mewarnai gambar, jadi salah satu fan dari kartun Disney dan bercita-cita jadi spiderman atau superman. Dari 2 kejadian di hari itu, banyak sekali yang saya bisa ambil , bahwa hidup itu tidak selamanya indah, kadang kita ketemu sama yang namanya berantem, lapar dan sebagainya. Kadang kita terlalu pesimis sama hidup kita engga bakal bisa blabblabbla, padahal kalau kita lihat kesekitar kita, ada hal yang jauh lebih rumit dibanding masalah kita. Ada hal yang kadang engga bisa kita jelaskan secara logika, tapi hati kita bisa. Arif itu contoh bahwa kita harus jauh lebih bersyukur, jauh lebih menghargai semuanya. Merhargai uang, menghargai keluarga kita karena mereka sudah kasih kita segala kebaikan, pendidikan, makanan enak, terutama makasih sama Allah karena sudah kirim kita ke Ayah- Ibu orangtua yang engga pernah mau anaknya nangis karena lapar kaya arif.