Lebih dari sebulan saya kurang
produktif menulis di blog, mungkin saya sibuk beradaptasi dengan lingkungan
saya yang baru. Lepas dari dunia kuliah membuat saya sedikit kaget. Saya harus
menjadi feny yang lebih mandiri, saat saya kuliah semua terasa mudah karena
saya melakukan bersama dengan teman-teman saya, Tapi semua berubah ketika saya
masuk didunia kerja, saya harus berdiri sendiri, harus belajar dengan waktu
yang sangaat singkat. Kadang saya ingin kembali kedunia itu, dimana semua
terasa jauh lebih mudah, ringan dan menyenangkan tapi saya sadar saya harus
menyesuaikan kecepatan waktu bukan waktu
yang menyesuaikan saya. Saya harus berlari mengikuti waktu, bukan waktu yang
berjalan dibelakang saya. Hidup saya menjadi lebih dinamis sekarang. Semua
serba cepat, dan selalu ingin cepat.
Jumat kemarin saya bersyukur,
saya memiliki waktu satu hari, lepas dari rutinitas mengajar saya. Lepas dari
penglihatan adik-adik kecil yang selalu memanggil saya dari kejauhan “ Bu
Fenyyyyyyyyyy! Hahaa saya hapal betul bagaimana mereka meneriaki saya dari
lantai 2 sambil melambaikan tangan ke saya, atau sekedar bertukar cerita, “ Bu
kita Games lagi dong bu, hayo bu kaya minggu kemarin” rengekan mereka kadang
membuat saya ingin tertawa, bagaimana bisa kalian begitu bersikap manis? Ternyata
menjadi guru bukan pekerjaan yang buruk, sangat sangat menyenangkan. Yaa kembalik
ke hari jumat, 20 februari 2014, saya memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar
Jakarta. Menikmati sedikit waktu saya untuk melakukan hal yang berbeda. Saya sampai
di istana Negara Jakarta, hari itu saya engga pernah berencana mau kemana, saya
biarkan kaki saya tetap berjalan, untung sekali hari itu jalanan sepi tidak
macet, mungkin karena habis hujan. Saya berjalan mengitari Monumen Nasional,
menyempatkan diri ke stasiun Gambir, untuk solat dzuhur. Karena tidak mungkin saya solat dimasjid
karena sedang dipakai untuk solat Jumat, jadi jauh lebih baik saya solat di
mushola. Setelah itu saya berjalan lagi, saya percayakan kaki saya melangkah
kemanapun dia mau, asal masih berada sekitar Jakarta, saya tidak pernah takut. Selama
masih bertemu jalan protocol itu tak masalah, disana saya lihat banyak sekali
restaurant, banyak sekali orang didalamnya, ini pertama kalinya saya kedaerah
ini, ditempat ini saya sempat masuk kedalam beberapa restaurant tapi penuh
sekali, mungkin karena situasinya saat makan siang, sampai saya melihat satu
gang yang isisnya warung-warung makan yang bersih, ada sedikit pasar kecil juga
didalamnya. Saya coba masuk kedalam, semua tempat penuh, kecuali satu meja
denngan 4 kuris yang tersisa, okay saya putuskan untuk duduk disana, tidak lama
ada sepasang suami –istri ikut bergabung, saya makan sop daging, dan engga lama
saya mendengar sepasang suami –istri itu berdebat. Saya engga berniat mau
mendengar pertengkaran mereka Cuma bagaimana bisa, sedangkan saya duduk
dihadapan mereka, saya mencoba untuk cari kursi lain, mungkin jauh lebih sopan
kalau saya duduk di meja yang berbeda dengan mereka setidaknya saya tidak harus
mendengar kenapa mereka bertengkar, tapi saya gagal semua kursi penuh, ya sudah
terima saja nasib itu. Setelah makan, saya mencooba untuk mengexplore diri saya
di Jakarta, 23 tahun tinggal di Jakarta, tapi ini pertama kalinya saya ketempat
ini hahaa cupu sekali. Saya berjalan menikmati pemandangan gedung- gedung
tinggi menjulang, saya masih menikmati indahnya Jakarta yang tidak terlalu
ramai saat itu. Sampai saya bertemu dengan gedung yang tak asing bagi saya “Grand
Indonesia” saya menaiki tangga penyebrangan, sedikit mengambil foto dari sana,
sampai saya melihat ada sesuatu yang menarik saya kasana, ada anak kecil
mungkin 4 tahun umurnya menangis, dia menunjuk-nunjuk kegerobak makanan, ibunya
hanya diam sambil meggendok adiknya yang masih bayi. Saya mendekat kepada anak
kecil itu, sambil memegang pipinya, mengelus kepalanya “Adek kok nangis? Mau jajan
yaaa? Hayo sini sama tante kebawah jajan yuk, engga apa2 engga dimarahin kok”
ibunya sambil memelas dan berkata “ si arip laper mba, uangnya belom cukup buat
beli nasi” “ oh gitu yaa, ywd arif kebawah sama tante yuk, jajan tuh dibawah
ada banyak makanan yuk” siadik kecil akhirnya berhenti menangis, tapi saya yang
akhirnya menangis. Arif itu masih terlalu kecil untuk menahan lapar, masih
terlalu muda untuk berdiri dipinggiran jembatan penyebrangan sambil memegang
gelas dan meminta-minta. Kulitnya masih terlalu halus untuk terkena sinar
matahari, debu jalanan. Saya emang engga pernah berada diposisi arif, tapi saya
tahu rasanya lapar itu bagaimana, yang membedakan saya dengan arif adalah saya
masih mampu untuk membeli makanan ketika saya lapar, sedangkan arif hanya mampu
menangis saat lapar. Kasian dia, harusnya dia sedang berada di taman belajar,
mewarnai gambar, jadi salah satu fan dari kartun Disney dan bercita-cita jadi
spiderman atau superman. Dari 2 kejadian di hari itu, banyak sekali yang saya
bisa ambil , bahwa hidup itu tidak selamanya indah, kadang kita ketemu sama
yang namanya berantem, lapar dan sebagainya. Kadang kita terlalu pesimis sama
hidup kita engga bakal bisa blabblabbla, padahal kalau kita lihat kesekitar
kita, ada hal yang jauh lebih rumit dibanding masalah kita. Ada hal yang kadang
engga bisa kita jelaskan secara logika, tapi hati kita bisa. Arif itu contoh
bahwa kita harus jauh lebih bersyukur, jauh lebih menghargai semuanya. Merhargai
uang, menghargai keluarga kita karena mereka sudah kasih kita segala kebaikan,
pendidikan, makanan enak, terutama makasih sama Allah karena sudah kirim kita
ke Ayah- Ibu orangtua yang engga pernah mau anaknya nangis karena lapar kaya
arif.
