Sebentar lagi Tepat 100 hari kematian uti…
Semuanya terasa berat.. berat karena uti udah ga ada disinii
lagi..
Pengen deh cerita semua yang aku rasain, semua rasaa ga ada
yg tersisa..
mungkin aku ga butuh
nasehat aku Cuma butuh pelukan uti aja karena yg ingin aku rasain sekarang
adalah hangatnya, baunya pelukan uti….
Kehangatan pelukan uti itu ibarat air di musim kemarau,
begitu menyejukan, melegakan, sampai setiap tetesannya begitu berharga bagiku..
Mungkin jasatmu sudah habis dimakan cacing-cacing kecil,
tetapi setiap senyumanmu ga pernah habis dari memoriku…
Karena aku menjadi pribadi yang sekarang adalah hasil
bentukan dari ibu dan ibu adalah hasil dari buah kerjakerasmu mendidiknya dan
aku bersyukur setidaknya aku bangga memiliki nenek sepertimu..
Uti lahir dari sebuah kesederhanaan, ya sangat sederhana yang
kau punya hanya senyum dan kata Alhamdulillah ga pernah aku denger kata “ah”
selama aku 21 tahun bersamamu. saat aku sudah mulai mengerti cara membaca mimic
wajah, ga pernah kau berikan mimic wajah sinis kepadaku walau seletih apapun
kau menimangku disetiap malamku… hahah ya aku ingat sampai aku sd kelas 6 kau
masih kuat menggendongku disetiap pagi saat libur sekolah kita selalu menyusuri pematang sawah, sejuknya gunung sumbing, dan
jernihnya sungai yaa jujur aku rindu
saat itu.. andai waktuu bisa di ulang ingin rasanya saat itu aku tak ingin
pulang kerumah aku lebih memilih menghabiskan waktu di pematang sawah bersamamu
melihat ikan-ikan kecil di sungai sambil kau gulung kain gendongan itu di pinggangmu
dan melihat matahari hilang... hilang ditelan keanggunan gunung sumbing…
Aku harap kau masih bisa merasakan perasaan ini tii, rindu yang
tulus dari cucumu..
No comments:
Post a Comment