Hallo… Selamat malam semuanya
Sudah lama saya tak pernah bersua
di blog ini.
Bulan ini jadi bulan yang sangat
sibuk, sepupu saya sedang sibuk mencari sekolah terbaik di Jakarta. Saya ikut
senang bahwa sepupu saya bisa mendapatkan nilai yang memuaskan untuk nilai ujian
nasional.
Ujian nasional sangat menarik
sekali untuk dibahas, terlebih dengan kegagalan ujian nasional tahun ini yang
berakibat kepada pandangan public tentang kemendikbud terutama kepada bapak
menteri.
Saya tidak pernah menyalahkan Pak
Nur, saya tahu dia juga ingin memberikan yang terbaik. Semua ini jauh dari control
kita semua. Siapa yang ingin ujian tahun ini berantakan? Terlepas siapa yang
salah dan siapa yang benar dalam hal ini. Ujian nasional memang perlu di tinjau
kembali. Bukan hanya psikologi siswa yang dipertaruhkan disini,tetapi sebagai
guru pun memiliki perasaan yang sama. Beban mental yang sangat besar karena
kegagalan ujian nasional siswanya sangat berdampak kepada pandangan sekolah itu
sendiri.
Saya yang pernah merasakan menjadi
seorang siswi yang mengikuti ujian nasional dan merasakan menjadi seorang
pendidik yang dibenturkan pada fakta bahwa ujian nasional merupakan salah satu
tolak ukur kelulusan siswa itu sangat berat. Bukan karena standar nilai ujian
yang tinggi tetapi lebih kesiapan siswa akan materi yang harus dikuasi.
Indonesia memiliki panjang 5150 km, dari sabang sampai merauke, ingat bahwa Indonesia
adalah Negara kepulauan yang dibatasi oleh pegunungan, lautan dsb. Bagaimana
kabar siswa yang berada diantara lautan? Di pulau terpencil, bagaimana siswa
yang berada di daerah pegunungan yang sulit mendaptkan signal. Kalau Jakarta dijadikan
tolak ukur sebagai wilayah siap ujian nasional, of course ujian nasional bukan
hal yang sulit, tetapi kalau dibandingkan dengan daerah Papua contohnya,
presentasi kelulusannya kecil. Ini bukan salah mereka. Fasilitas yang kurang
membuat mereka terpaksa belajar dengan seadanya. Jangankan mengakses internet
untuk mencari sumber lain sebagai latihan soal persiapan ujian nasional, guru
pun disatu sekolah mungkin hanya 3orang.
Kenapa harus berfikir bahwa ujian
nasional itu penting? Yang penting adalah ujian moral. Kenapa tidak memasukan
mata pelajaran moral saja. Indonesia sudah penuh dengan korupsi, siswa kita
adalah generasi muda sebagai penyambung mimpi nenek moyang kita. Nilai
matematika 9,00 tidak bisa menjamin mereka untuk tidak korupsi dikemudian hari.
Tetapi Pelajaran moral dan agama yang ditekankan setidaknya bisa menjadi
fentilator mereka untuk tidak melakukan hal itu.
Sebagai calon pendidik saya tidak
keberatan dengan ujian nasional itu, tetapi mempertimbangkan adalah hal yang
cukup bijak. Kita seharusnya belajar kepada Negara Finlandia. Negara pemilik
Nokia ini, menjadi icon baru pada dunia pendidikan. Banyak factor yang
mempengaruhi Finlandia menjadi Negara yang berkelas khususnya dari segi
pendidikan. Disana tidak mengenal ujian nasional, ujian yang diberikan berasar
dari guru yang mendampingi siswa selama dikelas. Mereka diberi kebebasan untuk
memberikan ujian kepada siswa itu pun pada jenjang pendidikan setara SMA. Ini
cukup masuk akal karena yang tahu akan progress siswa itu adalah guru bukan
pemerintah apalagi nilai ujian nasional yang dijadikan tolak ukurnya.
Saya berharap kita semua mampu
berfikir kembali akan pentingnya hal ini. Ingat bahwa pendidikan moral adalah
yang dibutuhkan oleh generasi muda Indonesia saat ini bukan barisan rumus yang
harus di hafal.
Selamat Malam ..
No comments:
Post a Comment