
Hai kutub utara apa kabarmu?
Lama kita tidak saling bertegur sapa, emmm lama bagiku
karena setiap detik yang aku lalui tanpa kamu adalah sebuah penyiksaan yang tak
berujung…
Ya tidak kah kau bertanya apa kabarku? Kabarku tidak lebih
baik sesaat kamu hilang dibalik susunan gunung es yang mengelilingimu..
Utara, kamu tau apa yg aku lakukan sekarang? Disela-sela
keraguanku untuk merindukanmu, aku membuka kembali susunan kertas yg sering
kamu berikan kepadaku, omg cara ini ternyata salah, ini membuatku makin
bersalah karena makin merindukan saat-saat kebersamaan kita.. yaa aku dan kamu
menjadi satu yaitu kita… ini adalah harapanku tapi entah mengapa kamu dan aku
tak pernah sejalan dengan kata KITA antara kamu dan aku….
Kertas kertas kecil itu menjadi penghibur disaat keegoisanku
untuk merindukanmu teramat saat besar sampai mengalahkan logika berfikir ku..
Sejujurnya, tak pantas aku lakukan tapi siapa yg bisa
menyalahkan perasaan ini?
Kamu di utara dan aku di selatan kita bagai 1 koin yang
saling bertolak belakang. Kita memang bersama tapi bukan untuk berdampingkan,
lebih tepatnya kita saling membelakangi lalu jika hal ini sudah kita sadari dari dulu,
kenapa kamu menguatkan aku bahwa kita mampu bersama?
Kamu memang mengajariku banyak hal…
Tentang bagaimana bertahan… bertahan
Tentang bagaimana bersabar …. Bersabar akan tingkah
kekanak-kanakan mu yang sedikit abnormal
Tentang bagaimana tersenyum.. Tersenyum untuk setiap
celotehan orang lain tentang kita
Tapi kamu lupa mengajarkan aku tentang siap.. . Siap untuk
setiap detik jika kamu pergi meninggalkan aku dibalik warna lembut samudra
hindia..
Utara… jangan
tersenyum jika kamu melihat tulisan ini, ini hanya lamunan dari luapan
keegoisanku tentang perasaan rindu.. yaa rindu
20 oktober 2012 J
No comments:
Post a Comment