Selamat malam pembaca
Apa kabar 1 minggu ini? Sibuk? Menyenangkan?
Oh ya, sekitar pertengahan
februari ketika saya masih menikmati liburan akhir semester saya, saya pergi
kesalah satu tempat bersejarah kota Jakarta. Mungkin untuk orang Jakarta tempat
ini sangat tidak asing, tempat ini menjadi magnet bagi para warga Jakarta bahkan
pelancong dari luar Jakarta. Banyak orang asing yang tertarik datang ketempat
ini. Gedung dengan arsitekture eropa dengan atmosphere jaman belanda membuat
kita yang disana terlena dengan suasananya.
Kota tua menjadi nama tempat ini,
bangunan lamanya menjadikan tempat ini begitu diminati oleh banyak orang.
Perjalanan saya kesana sangat mudah. Tepat pukul 01.00 pm saya menaiki kereta
comuterline dari stasiun Depok.
03.00 pm kota tua sedikit lengah
tidak seramai biasanya, mungkin karena pada saat itu hari senin semua museum
tutup. Tetapi ada hal menarik yang saya lihat. Ada seorang pria mungkin usianya
25tahun sedang tertawa keras bersama seorang pria asing yang lebih tua darinya.
Mungkin pria asing itu umurnya 50tahunan. Tak lama mereka berpisah di
tengah-tengah kota tua. Pria muda itu menghampiri temannya yang duduk disamping
saya. Dengan keinginan tahu saya, saya beranikan diri untuk bertanya “bang,
tourguide ya?”
“Iya neng, kenapa?”
“ gpp, Tanya aja kok.. wih abang
keren dong bahasa inggrisnya”
“yah begitu neng, ga lancar-lancar
banget, yang penting bulenya ngerti aja”
“ Abang les dimana dulu?”
“boro-boro les neng, saya Cuma pas
disekolah aja belajarnya”
Dari percakapan yang singkat dia
mulai menceritakan kisah perjalannya.
“Dulu saya itu kerja di Batavia café,
Cuma karena ada masalah saya keluar. Saya di fitnah sama orang yang ga suka
sama saya. Dari pada saya harus ngakuin kesalahan yang bukan dilakuin sama saya
mending saya keluar”
“terus bang?” – keinginan tahuan
saya makin memuncak, bagaimana bisa seorang pelayan café menjadi seorang tourgiude.
“ Saya ga punya kerjaan, yaudah
saya paksain buat jadi tourguide. Awalnya mah takut, wong saya ga bisa bahasa
inggris tapi kalo saya ga kerja saya ga makan dong?”
“jadi tourguide enak loh neng,
sejam bisa dapet 300ribu, kalo saya bisa sampe 3 bule sehari saya bisa dapet hampir
1juta”
“gilak keren banget, ajarin saya
dong bang hehe”
“yaudah neng saya ajarin, ikut
saya aja sebentar lagi bule yang ngobrol sama saya juga keluar dari café nanti
neng liatin caranya”
“yah bang udah sore banget,
kapan-kapan saya kesini deh, nanti berguru sama abang”
“ok neng, sudah ya neng, bulenya
udh selesai makan tuh saya mau ajak dia ke jembatan sunda kelapa”
Percakapan begitu singkat tetapi
sangat bermakna bagi saya, bahwa saya harus sangat bersyukur atas apa yang
diberi oleh Allah atas kehidupan saya yang sekarang. Saya tidak harus bekerja
sampai sore, saya bisa kuliah dan menikmati waktu tanpa beban bagaimana saya
bisa makan besok. Semua begitu indah. Saya mulai meresapi bagaimana si abang
tourguide menjalani hidupnya. Dengan keterbatasan pengetahuan dia paksakan
dirinya untuk bekerja, dia tidak tahu apa yang dia sampaikan benar atau salah
yang terpenting baginya bagaimana bisa terus menyambung hidup untuk hari-hari
berikutnya dengan cara halal. Walau mungkin banyak kesalahan ketika dia
memberikan informasi lewat bahasa inggris. Tetapi itu tidak pernah membuat dia
jatuh, seakan kakinya yang kering karena sinar matahari tak mampu ditundukan
dengan celotehan miring tentang dia. Andai waktu itu dia menukar kejujurannya
dengan sebuah pekerjaan mungkin dia tidak dikeluarkan menjadi pelayan café,
tetapi Allah memberi dia hadiah bahwa derajat dia yang sekarang jauh lebih baik
dari yang dulu. Saya harus banyak belajar dari seorang penjual jasa tourguide
bahwa nasib kita bisa berubah, jika kita ingin merubahnya. Jangan paksakan
prinsip hidup kita ditukar oleh sesuatu yang tidak diyakinin kebenarannya
menurut Allah. Bersabarlah karena kehidupan yang jauh lebih baik menanti kita
pada waktu yang tepat.
Selamat malam.
No comments:
Post a Comment