playlist

Friday, February 22, 2013

Belajar dari seorang Tourguide


Selamat malam pembaca
Apa kabar 1 minggu ini? Sibuk? Menyenangkan?
Oh ya, sekitar pertengahan februari ketika saya masih menikmati liburan akhir semester saya, saya pergi kesalah satu tempat bersejarah kota Jakarta. Mungkin untuk orang Jakarta tempat ini sangat tidak asing, tempat ini menjadi magnet bagi para warga Jakarta bahkan pelancong dari luar Jakarta. Banyak orang asing yang tertarik datang ketempat ini. Gedung dengan arsitekture eropa dengan atmosphere jaman belanda membuat kita yang disana terlena dengan suasananya.
Kota tua menjadi nama tempat ini, bangunan lamanya menjadikan tempat ini begitu diminati oleh banyak orang. Perjalanan saya kesana sangat mudah. Tepat pukul 01.00 pm saya menaiki kereta comuterline dari stasiun Depok.
03.00 pm kota tua sedikit lengah tidak seramai biasanya, mungkin karena pada saat itu hari senin semua museum tutup. Tetapi ada hal menarik yang saya lihat. Ada seorang pria mungkin usianya 25tahun sedang tertawa keras bersama seorang pria asing yang lebih tua darinya. Mungkin pria asing itu umurnya 50tahunan. Tak lama mereka berpisah di tengah-tengah kota tua. Pria muda itu menghampiri temannya yang duduk disamping saya. Dengan keinginan tahu saya, saya beranikan diri untuk bertanya “bang, tourguide ya?”
“Iya neng, kenapa?”
“ gpp, Tanya aja kok.. wih abang keren dong bahasa inggrisnya”
“yah begitu neng, ga lancar-lancar banget, yang penting bulenya ngerti aja”
“ Abang les dimana dulu?”
“boro-boro les neng, saya Cuma pas disekolah aja belajarnya”
Dari percakapan yang singkat dia mulai menceritakan kisah perjalannya.
“Dulu saya itu kerja di Batavia café, Cuma karena ada masalah saya keluar. Saya di fitnah sama orang yang ga suka sama saya. Dari pada saya harus ngakuin kesalahan yang bukan dilakuin sama saya mending saya keluar”
“terus bang?” – keinginan tahuan saya makin memuncak, bagaimana bisa seorang pelayan café menjadi seorang tourgiude.
“ Saya ga punya kerjaan, yaudah saya paksain buat jadi tourguide. Awalnya mah takut, wong saya ga bisa bahasa inggris tapi kalo saya ga kerja saya ga makan dong?”
“jadi tourguide enak loh neng, sejam bisa dapet 300ribu, kalo saya bisa sampe 3 bule sehari saya bisa dapet hampir 1juta”
“gilak keren banget, ajarin saya dong bang hehe”
“yaudah neng saya ajarin, ikut saya aja sebentar lagi bule yang ngobrol sama saya juga keluar dari café nanti neng liatin caranya”
“yah bang udah sore banget, kapan-kapan saya kesini deh, nanti berguru sama abang”
“ok neng, sudah ya neng, bulenya udh selesai makan tuh saya mau ajak dia ke jembatan sunda kelapa”
Percakapan begitu singkat tetapi sangat bermakna bagi saya, bahwa saya harus sangat bersyukur atas apa yang diberi oleh Allah atas kehidupan saya yang sekarang. Saya tidak harus bekerja sampai sore, saya bisa kuliah dan menikmati waktu tanpa beban bagaimana saya bisa makan besok. Semua begitu indah. Saya mulai meresapi bagaimana si abang tourguide menjalani hidupnya. Dengan keterbatasan pengetahuan dia paksakan dirinya untuk bekerja, dia tidak tahu apa yang dia sampaikan benar atau salah yang terpenting baginya bagaimana bisa terus menyambung hidup untuk hari-hari berikutnya dengan cara halal. Walau mungkin banyak kesalahan ketika dia memberikan informasi lewat bahasa inggris. Tetapi itu tidak pernah membuat dia jatuh, seakan kakinya yang kering karena sinar matahari tak mampu ditundukan dengan celotehan miring tentang dia. Andai waktu itu dia menukar kejujurannya dengan sebuah pekerjaan mungkin dia tidak dikeluarkan menjadi pelayan café, tetapi Allah memberi dia hadiah bahwa derajat dia yang sekarang jauh lebih baik dari yang dulu. Saya harus banyak belajar dari seorang penjual jasa tourguide bahwa nasib kita bisa berubah, jika kita ingin merubahnya. Jangan paksakan prinsip hidup kita ditukar oleh sesuatu yang tidak diyakinin kebenarannya menurut Allah. Bersabarlah karena kehidupan yang jauh lebih baik menanti kita pada waktu yang tepat.
Selamat malam.

No comments:

Post a Comment